Image: S. Sudjojono (1913–1986). Image source: Wikimedia Commons, via Wikipedia.

S. Sudjojono (1913 – 1986)

S. Sudjojono merupakan salah satu tokoh kunci seni rupa modern Indonesia yang selalu disebut, bahkan oleh Trisno Sumardjo diberi sebutan “Bapak Seni Lukis Indonesia Modern”. Dia lahir di Kisaran, Sumatra Utara, 14 Desember 1913 dari orang tua bersuku Jawa. Sejak berumur 4 tahun seorang guru HIS (sekolah setingkat SD) Yudhokusumo mengangkatnya menjadi anak asuh, dan membawanya ke Batavia pada tahun 1926, dan masuk ke sekolah Taman Siswa di Yogyakarta tahun 1932. Sudjojono mempelajari seni lukis dari seorang pelukis bergaya realisme, Mas Pirngadie pada tahun 1928, dan juga dari pelukis berwarga negara Jepang, Chiyoji Yazaki tahun 1935.

 

Pada tahun 1937 bersama Agus Djaya dan beberapa seniman lainnya, Soedjojono mendirikan Persatoean Ahli-ahli Gambar Indonesia (PERSAGI) di Batavia. Organisasi ini bertujuan untuk mengadakan suatu pembaharuan dalam seni rupa Indonesia. Seni lukis menjadi media yang dapat merefleksikan realitas sosial masyarakat Indonesia. Seni lukis tidaklah netral, tetapi berangkat dari cara pandang tertentu. Dalam hal ini, keberadaan Persagi sebagai pihak yang mengritik lukisan Mooi Indie yang dianggap merepresentasikan cara pandang kolonial. Gagasan-gagasan Sudjojono tentang perkembangan seni lukis modern Indonesia terangkum dalam bukunya yang terbit pertama kali berjudul: 'Seni Loekis, Kesenian, dan Seniman' (1946). Sudjojono mendirikan Seniman Indonesia Moeda (SIM) di Madiun, Jawa Timur pada tahun 1946, dan berpindah ke Yogyakarta tahun 1947.

 

Sudjojono merupakan salah satu tokoh Lekra dan pernah menjadi wakil DPR RI dari PKI selama tahun 1956-1957. Bersama Henk Ngantung, Hendra Gunawan, Sudharnoto, M.S. Ashar, dan Hadi, dia dikirim ke Berlin untuk menghadiri Perajaan Perdamaian Pemuda & Peladjar Sedunia di Berlin (5 - 19 Agustus 1951).

 

Sebagai tokoh berperngaruh, beberapa memoar dan buku telah diterbitkan dengan mencantumkan nama besarnya. Akhir masa hidupnya dilalui di kediaman sekaligus sanggar di Pasar Minggu, Jakarta, yang kemudian menjadi S. Sudjojono Center.

S. Sudjojono is one of the key figures of modern Indonesian visual art, who is always mentioned, even by Trisno Sumardjo, as the “Father of Modern Indonesian Painting.” He was born in Kisaran, North Sumatra, on December 14, 1913, to Javanese parents. Since the age of 4, a HIS (equivalent to elementary school) teacher named Yudhokusumo took him as a foster child and brought him to Batavia (Jakarta) in 1926. He then attended the Taman Siswa school in Yogyakarta in 1932. Sudjojono studied painting from a realist-style painter, Mas Pirngadie, in 1928, and also from the Japanese painter Chiyoji Yazaki in 1935.

 

In 1937, together with Agus Djaya and several other artists, Sudjojono founded Persatoean Ahli-ahli Gambar Indonesia (PERSAGI) in Batavia. This organization aimed to initiate reform in Indonesian visual arts. Painting was seen as a medium capable of reflecting the social realities of Indonesian society. Art was not neutral but based on a particular perspective. In this context, Persagi played a role in criticizing Mooi Indie paintings, which were considered to represent colonial viewpoints. Sudjojono’s ideas about the development of modern Indonesian painting are summarized in his first published book titled Seni Lukis, Kesenian, dan Seniman (1946). He founded the Indonesian Artists Moeda (SIM) in Madiun, East Java, in 1946, and moved to Yogyakarta in 1947.

 

Sudjojono was also a prominent figure in Lekra and served as a member of the Indonesian House of Representatives (DPR RI) from the Indonesian Communist Party (PKI) during 1956-1957. Along with Henk Ngantung, Hendra Gunawan, Sudharnoto, M.S. Ashar, and Hadi, he was sent to Berlin to attend the "Youth and World Student Peace Conference" in Berlin (August 5-19, 1951).

 

As an influential figure, several memoirs and books have been published bearing his name. The later years of his life were spent at his residence and studio in Pasar Minggu, Jakarta, which later became the S. Sudjojono Center.

Source: IVAA Online Archive.