Nasjah Djamin (1924 – 1997)

Noeralamsyah "Nasjah" Djamin lahir di Perbaungan, Deli, Sumatra Utara, 24 September 1924, adalah seorang pelukis, sastrawan dan penulis naskah drama. Ia juga merupakan salah satu pemrakarsa kelompok lukis Angkatan Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Medan dan Gabungan Pelukis Indonesia di Jakarta.

 

Nasjah mengenyam pendidikan hingga tingkat MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), sekolah Hindia Belanda yang setara Sekolah Menengah Pertama. Pendidikannya terhenti setelah pendudukan Jepang yang mengubah level MULO menjadi Shoto Chu Gakko. Nasjah sempat mengikuti sayembara poster propaganda "Asia untuk Asia" dan menang. Kemenangan ini memberikannya sebuah posisi di Sendenbu, badan propaganda imperialis Jepang, sebagai tukang gambar serta pelukis poster dan kami-sibai (gambar bercerita atau komik).

 

Pada tahun 1945, dalam umurnya 21 tahun, Nasjah turut mendirikan Angkatan Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Medan bersama M. Saleh, M. Kameil, M. Hussein, Daoed Joseoef, Ismail Daulay, dan Tino Sidin. Kelompok ini kemudian mengadakan pameran lukis pertama mereka di Medan, pada bulan September 1945.

 

Tahun berikutnya, muncul keinginan untuk pergi merantau ke Jawa dan belajar melukis. Keinginan ini terkabul setelah ia bersama Daoed Joesoef dan Sam Suharto berangkat ke Yogyakarta untuk belajar di bawah naungan sanggar Seniman Indonesia Muda (SIM), yang dipimpin oleh Affandi dan S. Sudjojono. Di SIM, ia belajar bersama dengan pelukis ternama lain, seperti Nashar dan Trubus Soedarsono. Pada tahun 1947, di bawah patronase Affandi, Nasjah dibawa ke rumah Soedarso, pelukis dari sanggar Seniman Masyarakat, sebuah sanggar yang juga dipimpin Affandi. Di rumah itu ia lebih banyak tinggal dan juga belajar melukis. Lukisan-lukisannya, yang banyak memotret lanskap, termasuk yang dikoleksi oleh Presiden Sukarno.

 

Setelah 1947, ia pergi ke Jakarta setelah mengikuti long march ke Jawa Barat. Nasjah kemudian turut mendirikan Gabungan Pelukis Indonesia. Ia juga sempat bekerja sebagai ilustrator buku di Balai Pustaka selama 1949-1950, dan di sana bertemu dengan sastrawan Chairil Anwar. Pertemuannya dengan Chairil Anwar yang kemudian menarik dirinya untuk ikut terjun ke dalam dunia sastra dimana ia lebih banyak mengabdi di akhir hidupnya.

 

Nasjah mendapatkan Anugerah Seni dari pemerintah Republik tahun 1971 atas pengabdiannya di berbagai bidang seni. Ia wafat  tahun 4 September 1997.

Noeralamsyah "Nasjah" Djamin was born in Perbaungan, Deli, North Sumatra, on September 24, 1924. He was a painter, writer, and playwright. He was also one of the pioneers of the Indonesian Fine Arts Movement (Angkatan Seni Rupa Indonesia, ASRI) in Medan and the Indonesian Painters Association (Gabungan Pelukis Indonesia) in Jakarta.

 

Nasjah received education up to the MULO level (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), a Dutch East Indies school equivalent to junior high school. His education was interrupted after the Japanese occupation, which transformed the MULO level into Shoto Chu Gakko. Nasjah participated in the propaganda poster competition titled "Asia for Asia" and won. This victory earned him a position at Sendenbu, the Japanese imperial propaganda agency, as a draftsman and poster artist, as well as a kami-sibai (storytelling pictures or comics).

 

In 1945, at the age of 21, Nasjah co-founded the Indonesian Fine Arts Movement (ASRI) in Medan with M. Saleh, M. Kameil, M. Hussein, Daoed Joseoef, Ismail Daulay, and Tino Sidin. The group held their first painting exhibition in Medan in September 1945.

 

The following year, he developed a desire to go to Java to study painting. This wish was fulfilled when he, along with Daoed Joesoef and Sam Suharto, went to Yogyakarta to study under the auspices of the Young Indonesian Artists Studio (Sanggar Seniman Indonesia Muda, SIM), led by Affandi and S. Sudjojono. At SIM, he studied alongside other renowned painters such as Nashar and Trubus Soedarsono. In 1947, under Affandi's patronage, Nasjah was taken to the house of Soedarso, a painter from the Artistic Society Studio (Sanggar Seniman Masyarakat), also led by Affandi. He spent more time living there and further learned painting. His paintings, many depicting landscapes, were even collected by President Sukarno.

 

After 1947, he moved to Jakarta after participating in the long march to West Java. Nasjah then co-founded the Indonesian Painters Association (Gabungan Pelukis Indonesia). He also worked as a book illustrator at Balai Pustaka from 1949 to 1950, where he met the poet Chairil Anwar. His encounter with Chairil Anwar eventually drew him into the literary world, where he dedicated more of his later life.

 

Nasjah received the Arts Award from the Government of the Republic in 1971 for his contributions across various fields of art. He passed away on September 4, 1997.

Source: IVAA Online Archive, Wikipedia