Image: Harijadi Sumadidjaja, Self-Portrait, 1962. Oil on canvas. Collection of the National Gallery of Indonesia.

Harijadi Sumadidjaja (1919 - 1997)

Harijadi Sumadidjaja lahir di Ketawangrejo, Kutoarjo, Jawa Tengah, 25 Juli 1919. Ia seorang pelukis otodidak. Sejak tahun 1946 bergabung dengan Sanggar Seniman Masjarakat dan Seniman Indonesia Moeda (SIM) di Yogyakarta. Selama perjuangan kemerdekaan Harijadi menjadi anggota Tentara Peladjar. Menggunakan teknik realis yang kuat, Harijadi sangat banyak menggambarkan kehidupan sederhana orang-orang biasa.

 

Tahun 1958 Harijadi mendirikan Sanggar Selabinangun (atau kadang dituliskan Sangsela) sebagai kelompok seniman di Yogyakarta. Melalui Sanggar ini dan juga dengan keterlibatannya di SIM, Harijadi merupakan seniman kunci dalam penciptaan beberapa relief monumental dari batu andesit dan beton dari akhir 1950-an sampai awal 1960-an untuk ruang publik dan hotel, beberapa di antaranya ‘Manusia Indonesia’, ‘Flora dan Fauna di Indonesia’, dan ‘Legenda Sangkuriang’ (dirancang bersama S. Sudjojono dan Surono), untuk Ruang Transit VIP Bandara Kemayoran. Relief lainnya yang dikerjakan bersama Sangsela adalah ‘Bandung Bondowoso’, di Bandara Adisutjipto Yogyakarta, dan ‘Pesta Pura di Bali’, di Hotel Indonesia, Jakarta. 

 

Pada tahun 1965 Harijadi pergi ke Meksiko untuk belajar mural dan museum, sepulangnya dari sana, ia bekerja di Museum Nasional di Jakarta. Tahun 1974, Harijadi dikomisikan pemerintah DKI untuk membuat mural legendaris berjudul ‘Situasi Batavia 1880-1920’ di Museum Sejarah Jakarta, yang tak sempat ia selesaikan, namun masih tetap dapat disaksikan di museum tersebut.

 

Selama hidupnya, Harijadi hanya sempat mengadakan satu pameran solo yang menampilkan 54 lukisannya pada tahun 1956 di Balai Budaya di Jakarta. Dia meninggal di Yogyakarta pada tanggal 3 Juni 1997.

Harijadi Sumadidjaja was born in Ketawangrejo, Kutoarjo, Central Java, on July 25, 1919. He was a self-taught painter. In 1946, he joined the Sanggar Seniman Masjarakat and the Seniman Indonesia Moeda (Young Artist of Indonesia) in Yogyakarta. During the struggle for independence, Harijadi served as a member of the Student Army. Using a strong realist technique, Harijadi frequently depicted the simple lives of ordinary people.

 

In 1958, Harijadi founded Sanggar Selabinangun (sometimes written Sangsela) as a group of artists in Yogyakarta. Through this studio and his involvement with SIM, Harijadi was a key artist in creating several monumental reliefs made of Andesite stone and concrete from the late 1950s to early 1960s for public spaces and hotels, including some works such as Manusia Indonesia (Indonesian People), Flora dan Fauna di Indonesia (Flora and Fauna in Indonesia), and Legenda Sangkuriang (designed together with S. Sudjojono and Surono), for the VIP Transit Room at Kemayoran Airport. Other reliefs created with Sangsela include Bandung Bondowoso at Adisutjipto Airport in Yogyakarta, and Pesta Pura di Bali (Balinese Temple Festival) at Hotel Indonesia, Jakarta.

 

In 1965, Harijadi traveled to Mexico to study murals and museum work. After returning, he worked at the National Museum in Jakarta. In 1974, Harijadi was commissioned by the Jakarta government to create a legendary mural titled Situasi Batavia 1880-1920 (Batavia Situation 1880-1920) at the Jakarta History Museum, which he did not finish but can still be seen at the museum.

 

Throughout his life, Harijadi held only one solo exhibition, displaying 54 of his paintings in 1956 at the Balai Budaya in Jakarta. He died in Yogyakarta on June 3, 1997.

Source: IVAA Online Archive and ‘Andesit Untuk Bangsa’, Ireng Laras Sari, Penerbit Pohon Cahaya, 2015