Photo: Batara Lubis. Source: Wikimedia Commons. Licensed under CC BY-SA 4.0.

Batara Lubis (1927 – 1986)

Batara Lubis lahir pada tanggal 2 Februari tahun 1927 di Hutagodang Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Batara Lubis merupakan keturunan Radja-Radja Hutagodang MandailingJulu, tepatnya putra kedua dari Raja Junjungan Lubisa, mantan Gubernur Sumatra Utara yang pada masa itu juga merupakan seorang pelukis yang pernah berguru dengan Wakidi, salah seorang naturalis pertama terkemuka di Sumatra Barat. Awal 1950an Batara Lubis juga dikenal sebagai salah satu pelukis angkatan Sanggar Pelukis Rakyat, yang ditahun 1960 bersama Hendra Gunawan, Sudarso, dan Trubus. Batara Lubis juga dikenal sebagai salah satu pelukis angkatan Sanggar Pelukis Rakyat, yang ditahun 1960 bersama Hendra Gunawan, Trubus, dan seniman muda lainnya, membuat monumen Tugu Muda Semarang. 

 

Batara Lubis mengadakan pameran lukisan tunggal pertamanya pada tahun 1956 di Balai Budaya dan kemudian beberapa kali mengadakannya juga di Yogyakarta, Medan, maupun Jakarta. Pameran bersama yang pernah diadakan antara lain Pameran Konferensi Bandung untuk Asia-Afrika (1955), Pameran Karya Pelukis Muda Asia di Tokyo, Jepang dan pameran keliling seni lukis Indonesia di Cekoslowakia, Austria, dan Berlin, Jerman. Beberapa kali ia mengikuti pameran Biennale Seni Lukis Indonesia di Taman Ismail Marzuki antara tahun 1971 hingga tahun 1980-an.

Batara Lubis was born on February 2, 1927, in Hutagodang, South Tapanuli, North Sumatra. Batara Lubis was a descendant of the Hutagodang Mandailing Julu kings, specifically the second son of Raja Junjungan Lubisa, a former Governor of North Sumatra who was also a painter at the time. Raja Junjungan Lubisa had studied under Wakidi, one of the first prominent naturalists in West Sumatra. In the early 1950s, Batara Lubis was also known as one of the painters of the Sanggar Pelukis Rakyat movement, which in 1960, along with Hendra Gunawan, Sudarso, and Trubus, contributed to the movement. 

 

Batara Lubis is also known for creating the Monumen Tugu Muda in Semarang, together with Hendra Gunawan, Trubus, and other young artists in 1960. 

He held his first solo painting exhibition in 1956 at the Balai Budaya, and subsequently held several exhibitions in Yogyakarta, Medan, and Jakarta. Some of the group exhibitions he participated in include the Bandung Conference Exhibition for Asia-Africa (1955), the Asia Young Painters Exhibition in Tokyo, Japan, and traveling art exhibitions of Indonesian painting in Czechoslovakia, Austria, and Berlin, Germany. He also participated multiple times in the Indonesian Painting Biennale at Taman Ismail Marzuki from 1971 to the 1980s.

Source: IVAA Online Archive