
Image: Agus Djaya painting at Sanur Beach, Bali. Image source: Wikimedia Commons, via Wikipedia.
Agus Djaya Suminta lahir di Banten tahun 1913 dari keluarga bangsawan Banten. Dikenal sebagai kakak pelukis Indonesia lainnya, Otto Djaya, keduanya sejak kecil telah memperoleh pendidikan yang baik dan ketertarikan terhadap seni budaya, baik seni tradisi mau pun Barat.
Bekerja sama dengan S. Sudjojono membentuk Persatoean Ahli-ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada tahun 1938-1942, dan duduk sebagai ketua pada kurun waktu tersebut. Selama pendudukan Jepang ia mengepalai Bagian Kesenian dari Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Sidosho) serta kemudian bekerja di organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Selama masa revolusi Agus Djaya merupakan seorang kolonel dalam angkatan perang Indonesia. Selama hampir 4 tahun Agus Djaya berada di Negeri Belanda sebagai utusan "cultural diplomacy" dari Pemerintah RI yang baru terbentuk, untuk melakukan pendekatan dan upaya mempercepat Pemerintah Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan negara Indonesia. Selama di Negeri Belanda, Agus Djaya mengikuti kuliah di Rijks Academie Beeldende Kunsten di Amsterdam dan belajar jurnalistik di Fakultas Jurnalistik, Universiteit Amsterdam (1947 - 1949).
Tahun 1947, Stedelijk Museum Belanda menyelenggarakan pameran duet Agus Djaya dan adiknya Otto Djaya, sebuah momen prestisius yang sangat langka pada masa itu. Hingga kini, Stedelijk masih mengkoleksi sejumlah karya dari kedua seniman tersebut.
Tahun 1950 Agus Djaya kembali ke Indonesia dia melakukan beberapa macam usaha, salah satunya membuka sebuah art shop serta galeri di Jakarta. Tahun 1955, Agus Djaya menetap dengan isterinya di Bali, mendirikan studionya di daerah Pantai Kuta. Selain melakukan pameran di Indonesia, juga berpameran di Belanda dan Brazil. Tahun 1994 menerima Hadiah Seni dari Pemerintah RI. Agus Djaya meninggal di Jakarta tahun 1994.
Agus Djaya Suminta was born in Banten in 1913 into a noble Banten family. Known as the older brother of another Indonesian painter, Otto Djaya, both of them received good education from a young age and developed an interest in cultural arts, both traditional and Western.
In collaboration with S. Sudjojono, he established Persatoean Ahli-ahli Gambar Indonesia (Persagi) from 1938 to 1942, serving as chairman during that period. During the Japanese occupation, he headed the Arts Section of the Cultural Center (Keimin Bunka Sidosho) and later worked in the Putera organization (Pusat Tenaga Rakyat). During the revolutionary period, Agus Djaya held the rank of colonel in the Indonesian armed forces. For nearly four years, Agus Djaya was in the Netherlands as a "cultural diplomacy" envoy of the newly formed Indonesian government, seeking to approach and expedite the Dutch Government's recognition of Indonesia's sovereignty. While in the Netherlands, Agus Djaya studied at the Rijks Academie Beeldende Kunsten in Amsterdam and learned journalism at the Faculty of Journalism, Universiteit Amsterdam (1947–1949).
In 1947, the Dutch Stedelijk Museum held an exhibition featuring works by Agus Djaya and his brother Otto Djaya, a prestigious event that was very rare at the time. To this day, the Stedelijk Museum continues to collect some works by both artists.
In 1950, Agus Djaya returned to Indonesia and engaged in various endeavors, including opening an art shop and gallery in Jakarta. In 1955, Agus Djaya settled with his wife in Bali, establishing his studio in the Kuta Beach area. Besides holding exhibitions in Indonesia, he also exhibited in the Netherlands and Brazil. In 1994, he received the Arts Award from the Indonesian Government. Agus Djaya passed away in Jakarta in 1994.
Source: IVAA Online Archive, Agus Djaya dan Sejarah Seni Lukis Indonesia, Solichin Salam, Pusat Studi dan Penelitian Islam, 1994